Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Mengenal Lebih Dekat Mazhab Syafi’i

Mengenal Lebih Dekat Mazhab Syafi’i

Riwayat hidup dan pendidikan

Imam Syafi’i (w. 204 H) adalah salah satu imam besar dari imam 4 mazhab fikih. Beliau seorang imam yang ahli al-Qur’an, ahli Hadits, ahli Ushul Fiqih, ahli Fiqih dan ahli Bahasa yang terkemuka di masanya.Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai. Beliau lahir di Gaza (Palestina) pada tahun 150 H dan wafat tahun 204 H.Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasabnya Rasulullah SAW pada Abdi Manaf bin Qushai.

Ketika berusia 7 tahun beliau sudah hafal al-Quran. Bahkan tidak hanya sekedar hafal saja namun juga beliau menguasai ilmu tafsirnya, ulumul Qur’an dan segala macam ilmu yang terkandung di dalam al-Quran. Kemudian saat berusia 10 tahun beliau sudah hafal kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik (w. 279 H).

Imam Syafi’i awal mulanya belajar bahasa Arab murni yaitu bahasa Arab yang asli dengan tingkat bahasa yang sangat tinggi. Beliau belajar dengan kaum Hudzail yang sangat terkenal kefasihan bahasa arabnya hingga Imam Syafi’i dikenal sebagai al-Imam fi al-Lughah (bahasa).

Setelah menguasi al-Quran dan bahasa, kemudian beliau belajar ilmu fiqih di Makkah dengan seorang ulama besar yang bernama Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (w. 180 H) dan ulama Makkah lainnya sampai beliau diizinkan gurunya untuk berfatwa di usia yang masih belia.

Setelah beberapa tahun belajar di Makkah, Imam Syafii (w. 204 H) hijrah ke madinah untuk belajar dengan seorang ulama besar ahli hadits pendiri mazhab maliki yaitu Imam Malik bin Anas (w. 279 H). Imam al-Baihaqi mengatakan bahwa dulu Imam Syafi’i pernah berkata: “saya telah hafal kitab hadits al-Muwatta karya Imam Malik (w. 279 H) sebelum bertemu dengannya. Ketika saya membacakan kitab al-Muwatta melalui hafalanku, Imam Malik terkagum-kagum dengan hafalan haditsku.”

Selama tinggal di Madinah, Imam Syafi’i telah menguasai ilmu mazhab maliki yang dikenal dengan ahlul hadits. Hingga akhirnya dikenal di kalangan para ulama bahwa beliau termasuk Ashab Malik (pengikut mazhab Maliki). Setelah Imam Syafi’i belajar dan menguasai ilmu mazhab Maliki, beliau pergi ke Iraq untuk belajar dengan seorang ulama besar mazhab hanafi yaitu Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (w. 189 H).

Selama beberapa tahun di Iraq, Imam Syafi’i menguasai ilmu mazhab hanafi. Dari sinilah kemudian Imam Syafi’i dikenal sebagai imam besar yang menguasai ilmu dua mazhab besar. Sebab beliau telah menguasai ilmu mazhab Maliki yang terkenal dengan sebutan ahlul hadits dan menguasai ilmu mazhab Hanafi yang terkenal dengan sebutan ahlur ra’yi.

Selanjutnya beliau pergi ke Yaman untuk belajar dengan Yahya bin Husain dan diangkat sebagai mufti dan sekretaris negara. Beliau juga sempat dituduh sebagai pengikut syiah. Namun akhirnya ditolong oleh gurunya Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (w. 189 H) karena memang tidak terbukti kesyi’ahan beliau. Lalu Imam Syafi’i kembali ke Iraq lagi.

Beliau juga sempat kembali ke Makkah dan telah menjadi ulama besar untuk mengajar di Makkah. Kemudian beliau mulai menyusun kitab ushul fiqih sampai akhirnya beliau kembali lagi ke Iraq untuk meresmikan dan mendirikan sebuah mazhab baru. Beliau juga menyusun kitab ushul fiqih yang dikenal dengan kitab ar-Risalah dan menyusun kitab fiqih yang dikenal dengan kitab al-Hujjah di Iraq.

Banyak ulama besar yang belajar dengan beliau di Iraq diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Imam az-Za’farani (w. 260 H), Imam al-Karabisi (w. 248 H) dan Imam Abu Tsaur (w. 240 H).

Pada tahun 199 H, Imam Syafi’i (w. 204 H) pindah ke Mesir dan merubah beberapa pendapatnya yang pernah beliau ucapkan di Iraq.

Selama kurang lebih 4 tahun di Mesir beliau menyusun kitab al-Umm. Banyak ulama besar yang belajar dengan beliau di Mesir diantaranya Imam al-Buwaiti (w. 231 H), Imam al-Muzani (w. 264 H), Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270 H), Imam Rabi al-Jaizi (w. 256 H) dan Imam Harmalah (w. 243 H).

Imam Nawawi (w. 676 H) mengatakan bahwa Imam Syafii wafat pada malam jumat di akhir bulan Rajab tahun 204 H di mesir pada usia ke 54. Beliau dimakamkan di mesir pada hari jumat setelah waktu ashar.

Keilmuan Imam Syafii

Para ulama menyebutkan bahwa Imam Syafi’i (w. 204 H) adalah seorang ulama yang ahli dalam ilmu ushul fiqih. Ilmu ushul fiqih adalah ilmu yang membahas bagaimana cara istinbat hukum atau cara memahami al-Quran dan Hadits yang benar. Beliau juga termasuk salah satu ulama yang pertama kali menuliskan ilmu ushul fiqih dalam sebuah kitab tersendiri. Kitab ini terkenal dengan nama ar-Risalah. Kitab ar-Risalah ini berisi ushul mazhab syafi’i dan kaidah kaidah dalam memahami al-Quran dan al-Hadits.

Para ulama sepakat bahwa Imam Syafi’i (w. 204 H) adalah seorang muhaddits ternama di zamannya. Sejak usia muda sudah hafal hadits yang terkandung dalam kitab al-Muwatta karya Imam Malik (w. 179 H). Imam Dzahabi (w. 748 H) mengatakan bahwa Imam Syafii memiliki hafalan hadits yang tidak mungkin salah. Ini menunjukkan akan ketsiqohan beliau dalam ilmu hadits. Bergelar al-Hafidz ats-Tsiqoh al-Hujjah dalam ilmu hadits. Sampai-sampai Imam al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) menuliskan sebuah kitab dengan judul al-Ihtijaj bi al-Imam asy-Syafi’i.

Beliau memiliki kitab fiqih diantaranya kitab al-Hujjah, kitab al-Umm, kitab al-Imla’ dan lain lain. Salah satu bukti kefaqihan beliau dalam ilmu fiqih adalah adanya 2 murid yang hebat yang belajar fiqih dengan beliau, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan Imam Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H).

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah orang yang paling tahu tentang makna ayat al-Quran. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) juga berkata: saya tidak menemukan seorang yang lebih pandai dan lebih mengerti terhadap kitab Allah dari pada Imam Syafi’i.

Salah satu kelebihan Imam Syafi’i adalah penguasaannya terhadap ilmu bahasa arab dan kefasihannya dalam bahasa arab. Beliau dijuluki orang yang paling fasih di zamannya dan dijadikan rujukan dalam ilmu bahasa.

Adapun akidah Imam Syafi’i (w. 204 H) sama seperti akidahnya Imam Abu Hanifah (w. 150 H), Imam Malik (w. 279 H) dan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Yaitu akidah yang telah dijelaskan dalam al-Quran dan al-Hadits dan apa yang telah dijelaskan oleh para sahabat dan para thabiin.

Seorang ulama dikatakan sebagai ulama besar yang menguasai ilmu agama bisa kita lihat seberapa banyak ulama sekelas mujtahid yang memujinya. Bukan melihat berapa banyak pujian murid-muridnya yang bukan ulama. Maka kita akan lihat kehebatan Imam Syafi’i sebab banyaknya ulama besar yang memuji keilmuan beliau.

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) mengatakan bahwa Imam Syafi’i bagaikan matahari yang menyinari dunia dan bagaikan kesehatan bagi setiap tubuh, maka apakah ada pengganti untuk kedua hal ini? Beliau berhujjah dengan hadits shahih dan pemahaman yang shahih.

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah orang yang paling mulia dan paling luas ilmunya. Dan beliau adalah imamnya para imam yang paham mengenai urusan agama dan paling santun akhlaknya.

Imam Suyuti (w. 911 H) mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah pemimpinnya para imam dan panutan seluruh umat.

Dasar-dasar mazhab Syafi’i

Satu-satunya imam mazhab yang menuliskan ushul mazhabnya dalam sebuah kitab adalah Imam Syafi’i (w. 204 H). Beliau menyusun kitab ar-Risalah yang berisi kaidah-kaidah ushul fiqih. Para ulama juga mengatakan bahwa beliau adalah peletak dasar pertama ilmu ushul fiqih dan orang yang pertama kali menuliskan ilmu ushul fiqih dalam sebuah kitab tersendiri.

Secara umum ushul fiqih mazhab syafi’iy berpedoman pada al-Quran, al-Hadits, al-Ijma’ dan al-Qiyas. Walaupun dalam prakteknya beliau juga menggunakan dalil syar’i lainnya seperti istihsan, maslahah mursalah, istishab dan lain lain. Mengenai penjelasan ushul fiqih mazhab syafi’i secara detail bisa kita baca dalam kitab-kitab ushul yang dikarang oleh para ulama besar dalam mazhab syafi’i diantaranya:

  1. Kitab ar-Risalah karya Imam Syafi’i (w. 204 H)
  2. Kitab al-Burhan karya Imamul Haramain (w. 478 H)
  3. Kitab al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali (w. 505 H)
  4. Kitab al-Mahsul Fii Ilmil Ushul karya Imam ar-Razi (w. 606 H)
  5. Kitab al-Ihkam Fii Ushulil Ahkam karya Imam al-Amidi (w. 630 H)

Kitab fiqih mazhab syafi’i jumlahnya sangat banyak sekali. Ini menunjukkan keseriusan para ulama syafi’iyah dalam mengkaji ilmu fiqih mazhab syafi’i dengan analisa dalil yang kuat. Hingga bermunculan kitab-kitab matan dan kitab-kitab syarh fiqih syafi’i.

Berikut ini adalah nama-nama sebagian kitab fiqih mazhab syafi’i dari zaman Imam Syafi’i sampai sekarang:

  1. Kitab al-Umm karya Imam Syafi’i (w. 204 H)
  2. Kitab Mukhtashar al-Muzani karya Imam al-Muzani (w. 264 H)
  3. Kitab al-Hawi al-Kabir karya Imam Mawardi (w. 450 H)
  4. Kitab al-Muhadzdab karya Imam asy-Syairazi (w. 476 H)
  5. Kitab Nihayatul Mathlab Fi Dirayatil Mazhab karya Imamul Haramin (w. 478 H)
  6. Kitab al-Basit, al-Wasit, al-Wajiz, dan al-Khulashah karya Imam al-Ghazali (w. 505 H)
  7. Kitab al-Muharrar dan asy-Syarh al-Kabir karya Imam Rofi’i (w. 623 H)
  8. Kitab Minhajut Thalibin, Raudhatut Thalibin dan al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi (w. 676 H)
  9. Kitab Fathul Wahhab karya Imam Zakaria al-Anzhari (w. 926 H)
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply